Selasa, 03 Maret 2020

Resensi : Si Anak Cahaya ; Syar'i Traveler

 

RESENSI BUKU FIKSI


     

 Judul Buku : Si Anak Cahaya

ISBN : 978-602-5734-54-0

Penulis : Tere Liye

Dimensi (pxlxt):  13,6x2,6x20,6 cm

Jumlah Halaman : 417 halaman

Penerbit : Republika Penerbit

Tahun Terbit : Desember 2018 (Cetakan I)

 

  “Nama kau Nurmas, itu nama yang indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan”

   Buku ini bercerita tentang kehidupan Nurmas si ‘Anak Cahaya’, seorang gadis kecil yang ceria dan gemar membantu orangtuanya. Seperti anak-anak kampung lainnya, masa kecilnya dipenuhi dengan petualangan yang seru dan menakjubkan, mulai dari saat ia pergi ke kota kabupaten menggunakan gerobak kerbau, menumpang Jeep milik tentara, mencari izin berjualan di stasiun, hingga bermalam di ladang untuk menjaga tanaman dari gangguan babi hutan. Nurmas kecil tinggal di kampung terpencil di lembah Bukit Barisan, pedalaman Sumatra. Kampung yang asri dan indah meskipun jauh dari perkotaan, juga nyaman dan tentram, sebelum beberapa kelompok kejahatan yang merupakan masa lalu dari kedua orang tua Nurmas, datang merusak dan menghancurkan kampungnya. Hingga akhirnya, Nurmas melakukan sesuatu yang selalu diingat penduduk kampung serta dijuluki sebagai si ‘Anak Cahaya’.

   Buku si Anak Cahaya ini merupakan buku kelima dari sekuel Anak-Anak Mamak. Bila keempat buku sebelumnya bercerita tentang kehidupan empat anak yang memiliki keunikan masing-masing, maka lain halnya dengan buku ini. Buku ini menceritakan tentang kehidupan masa kecil dari seorang anak yang kelak menjadi ibu dari keempat anak tadi. Bagaimana seluk-beluk keidupannya serta bagaimana sikapnya sehingga bisa melahirkan serta mendidik empat anak yang mejadi pribadi yang berakhlak baik dan juga dapat mewujudkan impian-impian mereka tanpa dibelenggu oleh keterbatasan. Oleh karena itu, dari semua buku di sekuelnya, buku ini merupakan ‘mahkotanya’

   Buku ini banyak memuat hikmah kehidupan juga sarat akan makna dan petuah. Mulai dari menjauhkan masyarakat dari takhayul, jimat, mengajarkan tentang arti kerja keraa, kepedulian terhadap sesame, nilai-nilai ketuhanan. Bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang baik juga menjadi ‘penerang’ bagi orang-orang disekeliling kita. Sebagai buku yang berlatar tahun 1950an, gaya bahasa serta pemilihan kata cukup sesuai dan masih kental dengan suasana terdahulu. Meskipun banyak menggunakan istilah lampau, buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan usia. Namun, masih saja ditemukan beberapa kesalahan dalam penulisan kata.

   Buku ini sangat direkomendasikan karena cocok dibaca oleh semua kalangan usia, inspiratif, sarat akan makna, dan memuat banyak petuah luhur yang dapat diambil dari kehidupan sehari-hari seorang Nurmas.



RESENSI BUKU NONFIKSI

 

 Judul Buku : Syar’i Traveler “The Heritage of Ottoman”

ISBN : 978-602-52054-1-5

Penulis : Felix Y Siauw & Tim Dakwah Hijab Alila

Dimensi (pxlxt)  13x1,2x19 cm

Jumlah halaman : 197 halaman

Penerbit : Al Fatih Press

Tahun Terbit : Agustus 2019 (Cetakan I) 

 

 

  “Ikuti petualangan seru jejak Islam di Asia-Eropa. Kamu akan diajak untuk menapaki sejarah kegemilangan Islam dengan sistem kekhalifahan Utsmani dalam perjalanan yang dibalut ketaatan”

   Pada bagian pertama dalam buku ini, dijelaskan bagaimana cara ber-traveler seharusnya menurut Islam. Seperti yang disebutkan pada surah Gafir:82, perjalanan yang seharusnya bukan hanya untuk bersenang-senang, tetapi juga dalam rangka mengagumi ciptaan Allah serta mengambil pelajaran darinya. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan penting penulis untuk melakukan perjalanan ke Turki, menelusuri jejak-jejak kejayaan Islam ratusan tahun lampau.

    Seperti judulnya, Syar’i Traveler, buku ini memuat bagimana kiat-kiat bagi para muslimah untuk ber-traveler di negeri orang. Selain itu, juga dilampirkan beberapa hadits, ayat-ayat Al Quran, serta adab-adab yang harus ditaati sebagai seorang muslim dalam melakukan sebuah perjalanan. Meskipun buku ini cenderung membahas seputar perjalanan, namun penjelasan mengenai sejarah kekhalifan Utsmaniyah juga tidak kalah banyaknya. Selain itu, sejarah tersebut dijelaskan secara rinci dan dengan Bahasa yang mudah dipahami, juga diperjelas oleh grafik-grafik, seperti silsilah kerajaan, dan lain-lain, yang makin mendukung penjelasan sejarah kekhalifahan.

   Sampul buku yang menarik, halaman buku yang full-color, serta layout yang rapi dan unik, tidak penuh dengan tulisan menjadi kelebihan dari buku ini. Selain itu, terdapat ilustrasi pendukung serta foto-foto pemandangan yang jernih, indah dan ciamik semakin menambah nilai plus bagi buku ini. Hanya saja, beberapa layout halaman terkesan acak sehingga cukup sulit untuk membacanya sesuai alur, juga masih ditemukan beberapa kesalahan dalam penulisan kata, salah satunya bahkan terdapat dibagian belakang sampul buku.

   Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada, buku ini sangat direkomendasikan untuk para mulimah yang senang atau baru ingin melakukan traveling yang syar’i dan sesuai dengan ajaran Islam.

0 komentar:

Posting Komentar