RESENSI BUKU FIKSI
|
ISBN : 978-602-5734-54-0 Penulis : Tere Liye Dimensi (pxlxt): 13,6x2,6x20,6 cm Jumlah Halaman : 417 halaman Penerbit : Republika Penerbit Tahun Terbit : Desember 2018
(Cetakan I) |
“Nama kau Nurmas, itu nama yang
indah sekali. Nur itu cahaya, mas atau emas itu logam mulia yang berharga. Aku
harap, suatu saat cahaya dan kemuliaan kau akan menyatu, berkilauan”
Buku
ini bercerita tentang kehidupan Nurmas si ‘Anak Cahaya’, seorang gadis
kecil yang ceria dan gemar membantu orangtuanya. Seperti anak-anak kampung
lainnya, masa kecilnya dipenuhi dengan petualangan yang seru dan menakjubkan,
mulai dari saat ia pergi ke kota kabupaten menggunakan gerobak kerbau,
menumpang Jeep milik tentara, mencari izin berjualan di stasiun, hingga
bermalam di ladang untuk menjaga tanaman dari gangguan babi hutan. Nurmas kecil
tinggal di kampung terpencil di lembah Bukit Barisan, pedalaman Sumatra.
Kampung yang asri dan indah meskipun jauh dari perkotaan, juga nyaman dan
tentram, sebelum beberapa kelompok kejahatan yang merupakan masa lalu dari
kedua orang tua Nurmas, datang merusak dan menghancurkan kampungnya. Hingga
akhirnya, Nurmas melakukan sesuatu yang selalu diingat penduduk kampung serta
dijuluki sebagai si ‘Anak Cahaya’.
Buku si Anak Cahaya ini merupakan buku
kelima dari sekuel Anak-Anak Mamak. Bila keempat buku sebelumnya bercerita tentang
kehidupan empat anak yang memiliki keunikan masing-masing, maka lain halnya
dengan buku ini. Buku ini menceritakan tentang kehidupan masa kecil dari
seorang anak yang kelak menjadi ibu dari keempat anak tadi. Bagaimana
seluk-beluk keidupannya serta bagaimana sikapnya sehingga bisa melahirkan serta
mendidik empat anak yang mejadi pribadi yang berakhlak baik dan juga dapat mewujudkan impian-impian mereka tanpa dibelenggu oleh keterbatasan. Oleh karena itu, dari semua buku di
sekuelnya, buku ini merupakan ‘mahkotanya’
Buku ini banyak memuat hikmah kehidupan juga
sarat akan makna dan petuah. Mulai dari menjauhkan masyarakat dari takhayul,
jimat, mengajarkan tentang arti kerja keraa, kepedulian terhadap sesame,
nilai-nilai ketuhanan. Bagaimana agar kita bisa menjadi pribadi yang baik juga
menjadi ‘penerang’ bagi orang-orang disekeliling kita. Sebagai buku yang
berlatar tahun 1950an, gaya bahasa serta pemilihan kata cukup sesuai dan masih
kental dengan suasana terdahulu. Meskipun banyak menggunakan istilah lampau,
buku ini cocok untuk dibaca semua kalangan usia. Namun, masih saja ditemukan
beberapa kesalahan dalam penulisan kata.
Buku ini sangat direkomendasikan karena
cocok dibaca oleh semua kalangan usia, inspiratif, sarat akan makna, dan memuat
banyak petuah luhur yang dapat diambil dari kehidupan sehari-hari seorang
Nurmas.
RESENSI BUKU NONFIKSI
|
|
ISBN : 978-602-52054-1-5 Penulis : Felix Y Siauw & Tim
Dakwah Hijab Alila Dimensi (pxlxt) 13x1,2x19 cm Jumlah halaman : 197 halaman Penerbit : Al Fatih Press Tahun Terbit : Agustus 2019
(Cetakan I) |
“Ikuti petualangan seru jejak Islam di
Asia-Eropa. Kamu akan diajak untuk menapaki sejarah kegemilangan Islam dengan
sistem kekhalifahan Utsmani dalam perjalanan yang dibalut ketaatan”
Pada bagian pertama dalam buku ini, dijelaskan
bagaimana cara ber-traveler seharusnya menurut Islam. Seperti yang
disebutkan pada surah Gafir:82, perjalanan yang seharusnya bukan hanya untuk bersenang-senang,
tetapi juga dalam rangka mengagumi ciptaan Allah serta mengambil pelajaran
darinya. Hal inilah yang menjadi salah satu tujuan penting penulis untuk
melakukan perjalanan ke Turki, menelusuri jejak-jejak kejayaan Islam ratusan
tahun lampau.
Seperti
judulnya, Syar’i Traveler, buku ini memuat bagimana kiat-kiat bagi para
muslimah untuk ber-traveler di negeri orang. Selain itu, juga
dilampirkan beberapa hadits, ayat-ayat Al Quran, serta adab-adab yang harus
ditaati sebagai seorang muslim dalam melakukan sebuah perjalanan. Meskipun buku
ini cenderung membahas seputar perjalanan, namun penjelasan mengenai sejarah
kekhalifan Utsmaniyah juga tidak kalah banyaknya. Selain itu, sejarah tersebut
dijelaskan secara rinci dan dengan Bahasa yang mudah dipahami, juga diperjelas
oleh grafik-grafik, seperti silsilah kerajaan, dan lain-lain, yang makin
mendukung penjelasan sejarah kekhalifahan.
Sampul buku yang menarik, halaman buku yang full-color,
serta layout yang rapi dan unik, tidak penuh dengan tulisan menjadi
kelebihan dari buku ini. Selain itu, terdapat ilustrasi pendukung serta
foto-foto pemandangan yang jernih, indah dan ciamik semakin menambah nilai plus
bagi buku ini. Hanya saja, beberapa layout halaman terkesan acak
sehingga cukup sulit untuk membacanya sesuai alur, juga masih ditemukan
beberapa kesalahan dalam penulisan kata, salah satunya bahkan terdapat dibagian
belakang sampul buku.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang
ada, buku ini sangat direkomendasikan untuk para mulimah yang senang atau baru
ingin melakukan traveling yang syar’i dan sesuai dengan ajaran
Islam.